Bagaimana seorang Ayah yang berhasil

July 2, 2007 at 11:47 am (Artikel)

 A : Hak-hak anak yang sering dilupakan oleh sebahagian para ayah.

Allah telah mewasiatkan kepada para anak agar berbuat baik pada kedua ibu bapanya dibanyak tempat, yang mana tidak diwasiatkan pada para ayah untuk mendidik anak-anaknya dengan pendidikan yang baik sebanyak wasiat berbuat baik pada dua ibu bapa. Hal ini dikarenakan seorang ayah mencintai anak-anaknya merupakan cinta yang fitrah, timbul sendirinya, dan merupakan instink ortu untuk mendidik anak-anaknya kependidikan yang baik.Datang seorang lelaki mengadu pada Umar bin Khattab tentang durhaka dan membandel  anaknya pada dirinya. Maka datanglah anak tersebut untuk membela dirinya. Ia bertanya pada Umar bin Khattab : “ Wahai Umar apakah hak anak terhadap ayahnya?”.

Umar berkata : “ Seorang calon ayah, hendaklah mencarikan untuk anak-anaknya ibu yang shalihah, dan mengajarinya kitabullah, juga memilihkan pada anak tersebut nama yang baik.”.
Apa kata anak tersebut : “ Wahai Amiril mukminin : ayahku tidak memberikan padaku hak-hakku tersebut…..”.

Zaman sekrang sering para ortu mengeluh akan kenakalan anak-anaknya, padahal yang  seharusnya ia lihat adalah pokok dari akar masalah itu sendiri berada pada dirinya. Apakah lelaki sebelum menikah telah memilihkan calon ibu dari anak-anaknya wanita yang shalihah, atau ia sekedar memilih perempuan sekedar nafsu dan kesenangan atau keegoisannya semata?. Apakah anak-anaknya sudah diajarkannya AlQuran, dan apakah anak-anaknya sudah diberikannya nama-nama yang baik? Inilah yang sering dilupakan oleh para bapak-bapak.

Rasulullah SAW bersabda : “ Ajarkanlah anak-anak kamu akan cinta pada nabi , juga ahlul bait nabi, juga ajarkanlah anak-anakmu membaca AlQuran”.

Sudahkan tugas atau kewajiban ayah yang merupakan hak anak dari ayahnya telah terlaksana? Jawabannya ada didiri kita masing-masing.


Bagaimana memilih ibu yang shalihah?

Islam sangat memperhatikan kemaslahatan anak, sebelum ia lahir. Islam mewasiatkan ayahnya agar memilihkan untuk sang ibu dari anak-anak, seorang ibu yang shalihah, yang tahu agama, pengertian, waa’iyah( sadar akan posisinya sebagai seorang ibu), musaqqafah(berpengetahuan), mukminah, sanggup mendidik anak-anaknya dalam pendidikan yang baik, juga perhatian  terhadap anak-anaknya.Dikatakan dalam syai’r Arab : “ Ibu itu adalah sekolah apabila kamu menyiapkannya dari awal, maka kamu menyiapkan suatu bangsa yang baik dan berakhlaq mulia “.Islam tidak pernah melarang seorang lelaki untuk memilih calon istrinya seorang wanita yang  mempunyai kedudukan yang baik, punya keturunan/dari keluarga  yang baik, punya harta dan kecantikan, hanya saja Islam lebih mengutamakan wanita yang memiliki agama.
Islam mewasiatkan ukuran pokok bagi seorang lelaki dalam memilih calon istrinya adalah yang yang kuat agamanya.

Rasulullah SAW bersabda : “ Dinikahi wanita itu atas empat perkara, karena hartanya,  keturunannya,
kecantikannya, juga agamanya, maka pilihlah yang punya agama engkau akan beruntung (H.R. Bukhari Muslim).

Maksudnya jika kamu memilih istri bukan karena agamanya, maka engkau akan merugi dengan  kerugian yang nyata.

Apa yang dapat diambil dari perempuan cantik, memiliki harta dan kekuasaan namun ia tak tah  gama dan mereka suka pamer diri, bertabarruj, atau bergaya dengan gaya jahiliyah, suka  membuat kerusakan moral. Kecantikan itu akan hilang darinya yang melekat dibadannya  hanyalah akhlak yang jelek. Harta akan punah, yang tinggal padanya kurangnya nilai-nilai  keagamaan dalam dirinya.

Adapun wanita shalihah maka ia akan perhatian terhadap urusan agamanya, mendidik anak-anak  dengan pendidikan yang baik, dan menjadikan mereka berguna bagi masyarakatnya.  Sebagaimana ibu yang shalihah akan bersikap baik pada suaminya, mempergaulinya dengan pergaulan yang penuh dengan rasa kasih sayang dan cinta, penuh kehormatan dan pengertian  yang tinggi dan dalam. Ia akan memperlihatkan pada anak-anaknya dan mengajarkan mereka  akan nilai-nilai norma adab, dan akhlaq yang mulia, ia menjadi contoh tauladan yang baik untuk anak-anaknya. Sedangkan ibu yang jelek tingkah laku pada suaminya, kasar dalam perkataannya, dan menyalahi perintahnya dan tidak memberikan hak-hak suami sebagaimana mestinya dengan penuh rasa hormat, maka anak akan tumbuh dan berkembang sepertinya.

Napoleon Bonaparte, seorang pemimpin Prancis masa lalu yang sangat terkenal itu ketika ditanya : “ Manakah pemeliharaan Prancis yang bisa mencegah kehancurannya? “. Ia berkata : “ Para Ibu yang baik-baik”
Seorang ibu yang baik, maka ia akan selalu menjaga shalatnya, memelihara hak-hak Allah ta’ala, tak suka berdusta, berbohong, mencuri, maka anak-anak akan tumbuh sepertinya juga. (lihatlah nabi Nuh, mempunyai istri yang pembangkang, maka ia melahirkan anak pembangkang juga, walaupun ayahnya seorang nabi dan rasul Allah, lihat Asiah istri Fir’aun, walaupun ia
istri seorang pendurhaka kelas kakap sepanjang sejarah dunia dulu dan kini, karena tingkat  kedurhakaannya yang sudah melampauai batas, namun ia beristerikan seorang yang mukminah, shalihah, walau bukan yang melahirkan nabi Musa As, namun beliau mendidik nabi Musa, rasul Allah, nabi  Musa didik oleh perempuan shalihah).

Ibu shalihah tak pelak lagi akan menghasilkan generasi yang akan menyeimbangkan antara imbangan kebaikan dan kejahatan yang ada dimuka bumi ini. Seorang lelaki yang menikahi   perempuan yang tidak baik, akan menolong kehancuran dari tiang-tiang pemeliharaan ajaran  Islam.

Dari hak anak yang sering dilupakan oleh sang ayah adalah memberikannya nama yang baik
B. Salah satu kewajiban seorang ayah terhadap anaknya adalah “ Memilihkan untuknya nama- nama yang baik “.
Mohon maaf sebelumnya bagi kita-kita yang kebetulan namanya berasal dari negeri Barat, bukan maksud saya menyinggung, saya menulis, ada yang dikenal dan ada yang tidak dikenal, tulisan  ini saya terjemahkan dari buku : “ Bagaimana menjadi ayah yang baik karangan Adil Fathi Abdullah “, dan saya menulis ini secara umum. Karena bukan berarti pula yang bernama diluar nama yang disukai Allah dan rasulNya, lantas orang itu tidak baik. Tapi memang Islam  mengajarkan kita ummat islam, mulai dari sekecil-kecilnya, masalah sepertinya sepele,sampai  sesebesar-besarnya. Tugas saya hanya menyampaikan.

Sangat banyak dizaman sekarang para ortu menamai anak-anaknya dengan nama diluar nama  Islam, tetapi lebih senang menamai anaknya dengan nama dari Barat, biar kelihatan lebih keren atau lebih bergengsi atau bagaimana, sayapun kurang tahu juga.

Padahal didalam hadist shahih disebutkan : “ Percantiklah nama kamu juga namailah anak- anakmu dengan nama-nama yang baik, sesungguhnya kamu kelak di hari kiamat akan dipanggil dengan nama kamu dan nama anak-anak kamu “.( H.R Abu Daud, Ahmad dan lainnya).

Juga sabda beliau : “ Sebaik-baik nama adalah Abdullah dan Abdurrahman “.
Kebanyakan para ortu dikarenakan kurang memahami akan hal ini maka mereka sering lalai  alam penamaan yang sesuai dengan islam.

Bahasa Arab adalah bahasa AlQuran, sementara bahasa AlQuran adalah bahasa ahli surga. Bagi kita yang ingin mengembangkan bahasa Arab, bahasa AlQuran, sebaiknya mulai dari sekecilnya, menamai anak, dipilihkan nama dari Arab(tapi ingat ! bukan sembarang bahasa Arab, maksudnya yang baik artinya). Dengan menamakan anak kita dengan bahasa AlQuran, berarti kita turut mengembangkan bahasa tersebut, mempopolerkannya ditelinga khalayak ramai, sehingga tak asing lagi bahasa Arab itu ditelinga siapapun. Hanya sayangnya kebanyakan dari kita merasa rendah atau malu bila nama kita Siti ‘Aisah, Zainab, Abdullah, dsbgnya. Kita lebih senang menamakan anak kita dengan Bilclinton, Monica, dsbnya.

Rasulullah menggantikan nama-nama istri, juga para sahabat lainnya, yang mulanya nama  mereka ngak baik, diganti menjadi baik, seperti “ Murrah “(pahit) diganti dengan “  jamilah(cantik), ada juga nama sahabat sebelumnya “ Sakhrah”(padang pasir), harb(perang), dan lainnya, semua diganti oleh rasulullah dengan nama yang lebih baik lagi.
Salah satu kewajiban ayah adalah mengaqiqahkan anak yang baru lahir, namun hal ini bukan yang kita bahas, karena berbagai pendapat ulama didalamnya, dan kita bukan disini  pembahasannya.

C. Kewajiban ayah adalah memberikan pada anak pemahaman tentang agama.

Wahai sang ayah yang muslim, anak kita bagaikan adonan tepung ditangan kita. Kitalah yang akan membentuknya, menjadi apa, sebagaimana yang kita suka.
Anak kita lahir dalam keadaan fitrah, suci, bening, anak-anak lebih dekat pada kebaikan dan  keimanan ketimbang membangkang dan kejahatan, maka semailah biji itu dengan biji yang baik, maka kelak kita akan menuai benih dan hasil yang baik juga.
Rasulullah SAW bersabda : “ Setiap yang lahir, dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka dua ibu
bapanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani “.
Anak, sebaiknya sudah disuruh shalat mulai dari umur tujuh tahun dan dipukul bila ia berumur 10 tahun bila
ngak mau juga(dipukul sayang bukan mencelakakannya). (
Bahkan realitanya, anak sudah bisa di suruh shalat
sejak 4-5 thn, pas 5-6 tahun insyaAllah ia sudah bisa
bacaan shalat, ketiga tujuh tahun tinggal gampang,
karena sudah dibiasakan sejak kecil lagi).

Bagaimanapun, “ Belajar diwaktu kecil, bagai mengukir
diatas batu, belajar sesudah dewasa bagai mengukir
diatas air”. Jangan kita heran, kalau ketika anak
besar tak tahu bacaan shalat, tak tahu tulis baca
AlQuran, tak berakhlak yang baik, ngak tahu akan
Tuhannya, nabinya, tak tahu agamanya, bila sejak kecil
kita mencuekinya dalam permasalahan yang teramat
penting ini.

Percayalah wahai para ortu, mendidik anak pemahaman
tentang agama bagi yang sudah besar akan lebih repot,
ketimbang mendidik mereka agama sejak kecil lagi. Kita
tidak akan kesulitan, tak akan capek keluar tenaga dan
mulut un tuk mengajarkan lagi ini dan itu, cukup hanya
mengingatkan saja, bila hal ini sudah kita ajarkan
sejak dini lagi.

Sebaik-baik dan sebesar-besar pemberian yang diberikan
ortu pada anaknya, bukan dengan memewahkan mereka
dengan harta kekayaan, bukan,.tetapi yang terbaik dan
suatu kewajiban kita sebagai ortu adalah dengan
memberikan anak pemahaman tentang agama.

Dalam Atsar : “ Ajarkanlah anak-anak kamu tiga hal,
cinta nabi kamu, cinta keluarga nabi, juga baca
AlQuran”.

Kita lihat orang yahudi dan Nasrani zaman dahlu kala,
mereka mengenal rasulullah, lebih ketimbang mereka
mengenal anak-anak mereka sendiri. Mereka l tahu
sejarah rasulullah, sebagaimana mengetahu anak-anak
mereka sendiri. Lihatlah betapa mereka lebih tahu
tentang rasulullah, ketika ditanya pada mereka, karena
mereka mempelajari sejarah rasulullah.

Dalam AlQuran sudah dijelaskan hal ini dengan
firmanNya : “ Ya’rifuunahu kama ya’rifuuna abnaaahum
“( mereka mengenal rasulullah, sebagaimana mereka
mengenal anak-anak mereka sendiri).
Bagaimana dengan zaman sekarang? Apakah anak-anak kita
faham sejarah kehidupan rasulullah, siapa beliau,
ayahnya, ibunya, gelarnya, perjuangan beliau dan
sebagainya? Betapa banyak diantara kita anak-anak kita
lebih hafal flim doraemaon, sinchan, atau siapa lagi.
Hafal luar kepala mereka.(padahal kalau kita teliti
cerita doraemon itu, yang kalau saya tak salah, semua
serba ajaib, bisa diciptakan saja, mau apa langsung
ada, ngak kerja, jadi malas, karena ada kantong
ajaiblah, atau apalah namanya)

Kita para ortu hendaklah yang pertama kali cerita yang
kita ceritakan hendaknya cerita sejarah kehidupan
rasulullah SAW, bkan cerita sikancil, pencuri ketimun,
akhirnya terpatrilah diotak anak sikancil yang cerdik
suka mencuri, maka tak heran betapa banyaknya para
koruptor dinegeri ini, wong sejak kecil sudah
diajarkan cerita licik lagi. Juga kijang atau monyet,
yang penipu, para buaya disuruh berjejer agar ia bisa
menyeberang, maka tak heran, banyak diantara kita
bersikap licik, bukannya cerdas atau pintar
sebagaimana kecerdasan dan kejujuran rasulullah SAW.

Sebaiknya buku-buku cerita yang dibaca oleh anak-anak,
diseleksi atau telah dibaca dulu oleh para ortu.

Betapa kita banyak mengajarkan anak dengan berbohong
dengan cerita-cerita kita tentang hantu/drakula, yang
akan menghisap darah, dan sebagainya.

Betapa tanpa kita sadari kita menjawab pertanyaan anak
bukan jawaban yang benar, tetapi asal jawab saja, tak
jarang penuh kedustaan. Padahal, jawaban kita pertama
sekali akan terus lengket dan menempel di otak anak
kita sampai besar, jangan kita berbohong sekecil
apapun jawablah dengan jawaban jujur sesuai dengan
logika anak, ngak perlu lari dari pertanyaannya. Itu
sebabnya, sebelum mengajarkan anak, para ortu dituntut
untuk belajar dan lebih pintar lagi, karena ortu
adalah panutan dan contoh tauladan anak-anaknya. (
kita ingat awal sekali, kewajiban ayah adalah mencari
ibu bagi sang anak yang berpengetahuan, jujur, cerdas,
dan faham agama).

Ini dia kaitannya. Jadi islam itu tidak sia-sia dalam
ajarannya, semua ada hikmahnya. Karena istri lebih
banyak dirumah, lebih banyak mendidik anak, maka yang
sangat dipentingkan Islam bagi lelaki adalah memilih
istri, atau calon ibu dari anak-anaknya.

Anak-anak sangat suka akan cerita…

Bersambung….

Wassalam. Cairo 5 mei 05 Rahima. (36thn)

Assalamualaikum.wr.Wb.

Mohon maaf, karena pada episode sebelumnya saya sudah
lupa nomor keberapa, dan saat bercerita anak-anak
sangat suka bercerita, trus ada kerjaan lain,
terhenti, sehingga sekarang saya bingung harus memulai
dari mana. Kita cukupkan sampai topik tersebut, kita
sambung lagi dengan topik baru, yaitu, Hal-hal yang
sering terlupakan oleh seorang ayah dalam mendidik
anaknya.

D.) Pendidikan terhadap watak sifat keberanian.dalam
dirinya.

Kebanyakan diantara kita para ortu sering menganggap
anak-anak kita belum mempunyai kepribadian, tidak
punya pendapat, oleh karena itu jarang diantara kita
meminta pendapat anak-anak dalam suatu masalah, maka
anakpun tumbuh dengan kepribadian yang lemah, tidak
punya I’timad(prinsip) dalam dirinya. Pada hakikatnya
anak semenjak dari kecilnya sudah punya kepribadian,
dan punya pendapat bahkan melihat sesuatu yang tidak
bisa dilihat oleh orang dewasa.

Rasulullah SAW sangat menghormati anak kecil. Beliau
selalu meminta pendapatnya. Rasulullah tidak
menganggap enteng anak-anak, memberikan bagi mereka
hak mereka. Dan memperhatikan pendapat anak-anak..
Rasulullah SAW kalau lewat didepan anak-anak,
memberikan ucapan salam, sebagaimana diberikan pada
orang dewasa.

Suatu kali Umar ra, mendengar rasulullah SAW
berceramah dan ditemani oleh anaknya Abdullah.
Kemudian rasulullah SAW mengatakan : Sesungguhnya
pohon itu menyerupai manusia, apabila kepalanya
dipotong maka pohon itu akan mati, sementara daunnya
tidak jatuh(berguguran).

Para sahabat diam( sambil berfikir pohon apa itu?) tak
ada seorangpun yang menjawab. Maka dijawab oleh
rasulullah SAW, sesungguhnya ia adalah pohon kurma.

Tatkala Umar keluar, apa kata anaknya “ wallahi,
sungguh demi Allah, aku ingin menjawab “pohon kurma”
tadi itu, tetapi kalaulah tidak karena segan pada
sahabat rasulullah SAW.

Apa dijawab oleh Umar, “ Wallahi, sungguh kalau engkau
jawab tadi itu, maka hal demikian jauh lebih baik
bagiku dari dunia seisinya”.
Begitulah ajaran sahabat terhadap anaknya, bersikap
berani.

Suatu kali Abdullah bin Zubair bin ‘Awwam, sedang
bermain bersama teman-temannya, kemudian Umar lewat,
maka berlarilah semua temannya, saking takutnya pada
Umar, tetapi Abdullah bin Zubair tidak berlari,
sehingga ditanyalah oleh Umar, kenapa engkau tidak
lari sebagaimana teman-temanmu yang berlari?

Apa jawab anak tersebut : “ Apa yang aku takutkan dari
kamu, sehingga aku lari, aku tak berbuat kesalahan,
dan jalan juga tidak sempit, sehingga aku harus
minggir, jalan cukup luas untuk dirimu ! “.

Perkataan yang sangat berani dari seorang anak kecil
kepada Umar ra, seorang khalifah yang disegani teman
dan ditakuti lawan. Bukankah ini dari didikan Fatimah
binti Abu bakar Siddiq, dan digelar dengan
dzatunnatiqaini, ibunya seorang yang sangat berani,
wajar keluar dari rahimnya seorang anak yang berani
pula. Didikan seorang ibu terhadap anaknya sangat
berpengaruh, itu pentingnya dari awal memilihkan bagi
seorang anak ibu yang cerdas, pintar, berakhlak dan
beragama yang baik, karena akan keluar dari didikannya
anak sepertinya.

Ada perbedaan didalam pendidikan keberanian dan
kegentlemenan, dengan jelek laku bersama orang dewasa,
atau tidak menghormati orang dewasa. Berani yang
dimaksud disini, tidak takut sekalipun kepada
siapapun, kecuali hanya kepada Allah SWT, atau
menyampaikan kebenaran. Orang berani akan berani pula
menyampaikan kebenaran pada siapapun, namun ia
menghormati orang yang lebih tua darinya, dan ia tetap
menghargainya.

Rasulullah SAW bersabda : “ Bukanlah dari golongan
kami orang-orang yang tidak menghormati yang lebih tua
darinya dan menyayangi yang lebih kecil darinya, dan
mengetahui bagi orang ‘alim(ulama), akan hak-hak para
ulama” ( H.R. At Tirmidzi dengan derajat hadist
Hasan).

Pengarang buku bagaimana menjadi ayah yang baik
mengatakan : “ Sebahagian orang sering salah
pengertian atau campur aduk antara tidak menghormati
yang tua dengan keberanian adab juga mengatakan
kebenaran. Bukanlah berarti seorang anak kecil
membalas kesalahan yang lebih tua darinya suatu
kesalahan dan dikatakan ia tidak hormat, selagi ia
berkata dalam batas-batas adab sopan santun, adapun
yang besar tidak mau mendengar perkataan yang lebih
muda darinya, ini suatu hal yang lain lagi “.

Betapa banyak dizaman rasulllah SAW para pemuda yang
masih muda-muda umurnya lebih didahulukan oleh
rasulullah dalam memimpin peperangan. lihatlah Usamah
bin Zaid, Khalid bin walid, yang mana pada mulanya
menimbulkan keheranan para sahabat yang lain, namun
begitulah ajaran rasulullah SAW sangat menghormati
pemuda dan memberikan kepercayaan serta punya jati
diri mereka sendiri. Wajarlah pemuda zaman dahulu kala
berani berperang, berani berkata yang benar, dan punya
jati diri, sehingga tak salah islampun maju kedepan
mengalahkan musuh-musuhnya. Semua ini karena apa,
karena sekecil apapun, yang namanya pemuda dan
anak-anak selalu dihargai oleh rasulullah SAW dan
diberi kepercayaan diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: